a struggling lady to be a woman

Namamu

Dear kamu dan namamu,

Walau kegelapan menggantikan terang, hanya beberapa bayang lembut dekorasi langit malam, secercah sinar berpendar menyelip masuk dan mengintip dengan keingintahuannya melalui tirai kain kamar, aku masih dapat melihat wajahmu dengan sempurna. Kau terlelap dalam mimpi kanakmu yang bermain-main dengan malaikat langit. Mereka putih, seperti namamu. Mereka suci, seperti namamu. Tergurat busur di tiap ujung bibirku, hanya melihatmu sedekat ini. Aku ingin melihat lebih lagi dirimu dengan ekor mataku mengikuti paparan cahaya malam yang tertinggal di sebagian kulitmu. Namun tangan dan kakiku diam pada tempatnya, terjepit di antara kehangatan pelukanmu. Aku ingin seperti ini. Aku akan menutup mataku. Tolong diam sejenak. Sebentar saja. Sejenak.

Benar, itu suara burung kutilang yang kudengar. Tanda empu sinar terterang sudah hampir menampakkan dirinya. Aku membuka kelopak mataku. Aku masih tak percaya masih ada kau di sampingku. Cintaku. Dapat kurasakan nafasmu yang pelan dan dalam. Nafas dari seseorang yang dapat menggairahkan kembali sebuah cinta: menghembuskannya dan membangkitkannya hingga hidup. Kamu masih dalam tidurmu. Kuguratkan sebuah senyum untukmu dan sentuhan kasih di pipimu. Matamu yang terbuka kini terpejam, sebuah mata indah yang berbicara dan mengambil hati seorang gadis belia sepertiku.

Aku tidak ingin melewatkan walau sekilas pandangan padamu. Kita begitu dekat dan sangat sesuai bersama. Aku percaya pada bintang yang bersinar. Dia bersinar untuk memendarkan kasih kita. Bibir kita terpaut satu dengan yang lainnya. Selanjutnya aku dapat merasakan tanganmu yang melingkar di pinggangku dan memeluk dengan ulu hatimu di bawah sebuah saksi mata bisu kain yang melingkupi kita berdua. Jika saja ia dapat berkata, ia akan menceritakan semua kisah harum yang kita tebar. Jika saja ia dapat mendengar, ia akan mengulang kembali semua bisikan-bisikan yang kamu ucapkan dengan lembut di telingaku.

Setiap inchi dari kamar ini bersaksi, bagaimana polosnya kah ketika kau tertidur. Sesuai namamu.

 

Dear kamu dan namamu,

Kamu harus tetap berjalan. sayang. Aku harus tetap berjalan. Kita harus tetap berjalan, namun tidak bersama. Kau tahu sayang, lebih baik kita tidak pernah bertem. Sinar langit malam yang dulu menyelinap masuk saat itu tidaklah berpihak pada kita berdua. Dia marah atas kita. Aku tak percayai lagi bahwa bintang memiliki cahaya diam. Dia itu bergerak menyimpan waktu seperti potongan babak dalam film dan memutarnya di suatu tempat sehingga Ia mengetahui kebenaran ini. Aku tak percayai lagi bahwa selimut adalah saksi bisu. Dia pasti memberi tahu Ia. Ia pun murka dan menghukum kenistaan kita. Sekarang hanyalah kegelapan yang disediakan bagi kita. Saat ini ketika kau tidak disini, begitu dingin yang kurasa hingga kulitku pun basah karena dinginnya embun. Alam tidak menyetujui kita, dia berusaha membekukan hati yang sempat membara. Alam menghukum kita berdua.

Jika saja hari itu aku tidak usah datang ke pondok itu hanya untuk mengikuti jejakmu. Jika saja hari itu kita tidak terhanyut suara ombak malam yang mendesir. Jika saja hari itu kita menghiraukan angin malam yang menderit, angin yang membawa pesan tentang Ia…

Kita tahu kita salah. Kita tahu mata kita sama-sama merah. Kita tahu kita sama-sama ingin menghentikan rotasi bumi. Kita tahu kita sama-sama tidak ingin kembali ke sana. Tangan, kaki, dan bibir kita memilih untuk dimiliki oleh yang lain. Hatiku tersayat ketika kau tidak lagi muncul di pandanganku tetapi kau selalu muncul dalam benak mimpiku. Walau aku tak percaya lagi pada bintang yang bersinar, aku tetap mempercayaimu. Bahwa hanya engkaulah yang memberi cahaya kecil di ulu hatiku. Sebab sebuah nama bukanlah suatu kebetulan diberikan ketika lahir. Putih, suci, dan polos. Itulah arti namamu.

 

Dari yang selalu memujamu,

 

 

Aku dan namaku.


Jakarta, August 2011.


To Tumblr, Love PixelUnion